Washington DC

Pemerintah federal Amerika Serikat (AS) mengucurkan investasi sebesar nyaris US$ 2, 5 juta atau setara Rp 36, 7 miliar dalam upaya menciptakan vaksin virus Corona (COVID-19) tanpa jarum suntik. Vaksin ini nantinya akan diberikan secara oral ataupun dalam bentuk patch yang lebih tak menyakitkan dibanding jarum suntik.

Seperti dilansir CNN , Kamis (27/8/2020), Otoritas Penelitian dan Pengembangan Lanjutan Biomedis AS (BARDA) mengumumkan empat logistik kecil untuk kelompok-kelompok yang berupaya mengembangkan vaksin Corona tanpa pasak suntik.

“Cara pemberian (vaksin-red) baru yang mereka kembangkan bisa mengurangi ketergantungan pada jarum suntik yang biasa digunakan buat memberikan vaksin melalui suntikan intramuskuler, ” demikian pernyataan BARDA.

“Sebaliknya, patch (semacam plester) yang dipasang di kulit atau opsi vaksin oral mungkin mendukung imunisasi yang lekas, dalam skala besar, sambil mengurangi beban pada rantai pasokan manufaktur, ” imbuh pernyataan tersebut.

Disebutkan juga bahwa vaksin tanpa jarum suntik ini lebih bisa bertahan lama. Tidak seolah-olah kandidat-kandidat vaksin Corona yang kini tengah dalam pengembangan, vaksin tanpa jarum suntik tidak harus disimpan dalam kondisi khusus atau guru tertentu, sehingga lebih mudah disimpan dan disalurkan.

4 pengadaan yang menjadi investasi GANDAR itu terdiri atas, pertama, Esperovax di Michigan yang tengah mengembangkan vaksin dalam bentuk kapsul yang bisa dikonsumsi manusia dengan mudah. Esperovax mendapat investasi senilai US$ 600 ribu dari BARDA.

Kedua, Universitas Connecticut yang telah memiliki sebuah microneedle patch dengan bisa digunakan dalam pemberian vaksin pneumonia. Kini, mereka tengah menguji coba vaksin Corona pada binatang. BARDA mengucurkan investasi sebesar US$ 430 ribu kepada mereka.

Ketiga, Vaxess Technologies pusat melakukan penelitian di Universitas Tufts dan Massachusetts Institute of Technology (MIT). Mereka menciptakan patch yang mampu melepaskan vaksin ke di dalam tubuh manusia. BARDA memberikan investasi US$ 749 ribu kepada mereka.

Keempat, startup bioteknologi dengan berbasis di California, Verndari, sedang mengembangkan microneedle patch berbasis gula dengan bisa diproduksi cepat. Investasi US$ 700 ribu dikucurkan BARDA untuk startup ini.

(nvc/ita)