Madrid

Negeri Spanyol memuji para tenaga medis yang telah berjuang mati-matian melayani pandemi virus Corona. Namun, kala kasus mulai turun, banyak gaya medis dibiarkan tertekan dan pukulan oleh pengalaman menangani Corona. Penuh pula yang masa depan kariernya tidak jelas.

Seolah-olah dilansir AFP , Jumat (17/7/2020) dengan 36, 3 persen pekerja layanan kesehatan jemaah tanpa kontrak permanen, menurut suatu survei, demonstrasi untuk menuntut perubahan semakin meningkat.

“Kita harus mengakhiri sistem kesehatan beranggaran rendah ini, ” kata Patricia Calvo, seorang dokter berusia 40 tahun, yang membuat alat penjaga sendiri dari kantong sampah saat menangani Corona.

“Saya menyelesaikan spesialis kami pada 2010, tetapi saya sedang dalam kontrak sementara, ” prawacana seorang dokter dari kota daksina Granada di mana rekan kerjanya, 14 petugas medis lainnya beruang dalam situasi yang sama.

“Ada wabah besar dalam pusat medis kami, orang-orang meninggal dan (pada awalnya) kami harus menangani semuanya sendiri, ” lanjutnya.

Sementara itu, Elena Barci, seorang perawat berusia 39 tahun di Madrid, mengatakan dia telah bekerja selama 12 tarikh dengan “kontrak kasar”.

Ketika virus itu menyerang, menelan korban lebih dari 28. 400 jiwa, Calvo dan suaminya, yang juga seorang dokter, menghabiskan waktu berbulan-bulan tanpa memeluk anak-anak itu karena takut menularkan virus.