Jakarta

Lima tahun berlalu sejak Suara Nuklir Iran (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA) ditandatangani pada tahun 2015. Kedutaan Besar Iran buat Indonesia menegaskan akan bertindak bahana kepada mereka yang melanggar suara itu.

Sebagaimana diketahui, JCPOA yang ditandatangani pada agenda 14 Juli 2015 antara lima negara anggota tetap DK-PBB yaitu Rusia, Amerika Serikat, Cina, Prancis, Inggris dan juga Jerman (5+1) dengan Republik Islam Iran tentang kegiatan nuklir Iran. Namun, Kedubes Iran mengingatkan bahwa kesepakatan tersebut dalam bahaya usai keluarnya Amerika Serikat (AS).

“Sebagai produk penting diplomasi multilateral, yang telah didukung secara luas oleh komunitas internasional, kini dengan keluarnya AS secara sepihak dari kesepakatan pada tanggal 8 Mei 2018 berada dalam bahaya yang mendalam pada peringatan kelimanya, ” kata Kedubes Iran dalam pernyataannya, Kamis (16/7/2020).

Kedubes Iran mengingatkan, jika tidak dilindungi, maka kesepakatan ini bisa menjadi mangsa pendekatan sepihak GANDAR.

“Apabila tidak dilindungi oleh komunitas internasional untuk memastikan implementasi yang seimbang dengan itikad yang baik oleh seluruh negeri bagian JCPOA maka kesepakatan ini pun dapat menjadi korban asing dari pendekatan sepihak AS dengan mana tanggung jawab dan dampak internasionalnya berada pada negara tersebut dan para sekutunya, ” lanjutnya.

Iran mengklaim kalau sejauh ini JCPOA adalah penyelesaian terbaik untuk saat ini. “JCPOA adalah solusi diplomatik yang dinegosiasikan untuk penyelesaian damai krisis fiktif yang kronis atas program nuklir damai Republik Islam Iran. Perjanjian ini bersifat komprehensif dan final, ” ujar Kedubes Iran.